SURAT DINAS
Rabu, November 17, 2021
Jumat, November 12, 2021
Rabu, November 03, 2021
Rabu, Oktober 13, 2021
Jumat, September 03, 2021
Selasa, September 09, 2008
KARTU KATA
BELAJAR MEMBACA DENGAN KARTU KATA
Semarang, 10 November 2007
Terima kasih Tuhan
Hari ini kita dapat berkumpul kembali
Untuk belajar dan bermain bersama.
Kelas belajar di Pondok Kubaca Yasmia pun dimulai. Setelah mengawali pelajaran dengan berdoa dan bernyanyi, mereka tampak begitu antusias menyimak pelajaran yang diberikan bunda Ana.
"Sekarang, kita keluarkan kartu kata ya. Ada lima gambar di depan. Sekarang gambar pertama, kartu mana yang cocok ? Ayo maju ke depan yang tahu," ajak bunda Ana.
"Saya...." teriak anak-anak sembari berlarian ke depan dan saling berebut untuk menempel kartu bertuliskan kata susu.
Kemudian bunda Ana bertanya, "Susu itu yang seperti apa? Ayo yang tahu acungkan jari." Dengan sigap Rena mengacungkan jarinya. "Yang biasa diminum tiap pagi, Bunda," jawabnya dengan malu-malu.
Ya, itulah salah satu kegiatan belajar mengajar di Pondok Kubaca Yasmia Jl Krakatau VIII No 7. Bermain dengan kartu kata, menyanyi, mewarnai, melipat kertas, menggambar, bermain bola adalah beberapa kegiatan lain yang biasa mereka lakukan.
Belajar membaca adalah materi utama yang diajarkan di samping permainan. Selain menggunakan kartu kata, anak juga diberikan buku membaca cepat serta lembar kerja siswa (LKS). Menariknya, mereka tak diajarkan mengeja huruf. Namun justru diajarkan langsung membaca kata per kata seperti papa, mama, ini, itu, susu, roti dan lain sebagainya.
"Karena tiap huruf atau abjad itu tidak ada artinya. Beda dengan kata yang suah pasti mengacu pada benda yang bisa dilihat bentuknya, sehingga bisa merangsang imajinasi anak," jelas Sigit, salah satu staf di Pondok Kubaca.
Metode Baru
Sulistyowati Bambang SE MM, pemilik Pondok Kubaca Yasmia mengatakan, dengan tempat belajar membaca bagi anak usia prasekolah ini diharapkan bisa menggantikan metode belajar membaca konvensional. "Karena metode belajar membaca yang dulu dianggap kurang efektif," katanya.
Menurutnya, metode baru ini akan membuat anak bisa cepat membaca dan menulis hanya dalam waktu tiga bulan. Mengapa cepat ? "Karena disini, anak tidak diajarkan belajar membaca dengan mengeja kata," tuturnya.
Dia menjelaskan, ada tiga level yang harus dilewati anak agar bisa cepat membaca dan menulis di pondok ini. Level pertama, membaca kalimat yang terdiri atas sepuluh kata, logika berbahasa dan pemahaman kalimat. Level kedua, anak akan diajarkan membaca dengan artikulasi, kata berimbuhan dan lawan kata dan menulis. Level ketiga, kata yang dipelajari akan ditambah dengan kata sambung, kata tanya dan tanda baca, serta mereka akan diajari menulis huruf kecil, besar dan tegak bersambung.
"Dengan metode ini anak akan mampu mengkoordinasikan atara mata dan mulut, menambah perbendaharaan kata, dan membuat mereka makin percaya diri," tambah Sulistyowati.
Semarang, 10 November 2007
Tanganku ada dua Lima-lima jarinya Kuangkat keduanya Mari kita berdoa ABI (5), Denis (3), Rehan (5), Rena (4), dan Safero (5) menyanyikan lagu Balonku yang telah diubah syairnya tersebut sembari duduk dan mengangkat kedua tangan mereka masing-masing. Didampingi empat orang pengajar yang mereka panggil dengan sebutan bunda, keempat balita tersebut menundukkan kepala.
Terima kasih Tuhan
Hari ini kita dapat berkumpul kembali
Untuk belajar dan bermain bersama.
Usai berdoa, lantas bunda Ana menyapa ; "Apa kabar semuanya?" Sontak bocah-bocah itu pun menjawab dengan serentak ; "Baik...".
Kelas belajar di Pondok Kubaca Yasmia pun dimulai. Setelah mengawali pelajaran dengan berdoa dan bernyanyi, mereka tampak begitu antusias menyimak pelajaran yang diberikan bunda Ana.
"Sekarang, kita keluarkan kartu kata ya. Ada lima gambar di depan. Sekarang gambar pertama, kartu mana yang cocok ? Ayo maju ke depan yang tahu," ajak bunda Ana.
"Saya...." teriak anak-anak sembari berlarian ke depan dan saling berebut untuk menempel kartu bertuliskan kata susu.
Kemudian bunda Ana bertanya, "Susu itu yang seperti apa? Ayo yang tahu acungkan jari." Dengan sigap Rena mengacungkan jarinya. "Yang biasa diminum tiap pagi, Bunda," jawabnya dengan malu-malu.
Ya, itulah salah satu kegiatan belajar mengajar di Pondok Kubaca Yasmia Jl Krakatau VIII No 7. Bermain dengan kartu kata, menyanyi, mewarnai, melipat kertas, menggambar, bermain bola adalah beberapa kegiatan lain yang biasa mereka lakukan.
Belajar membaca adalah materi utama yang diajarkan di samping permainan. Selain menggunakan kartu kata, anak juga diberikan buku membaca cepat serta lembar kerja siswa (LKS). Menariknya, mereka tak diajarkan mengeja huruf. Namun justru diajarkan langsung membaca kata per kata seperti papa, mama, ini, itu, susu, roti dan lain sebagainya.
"Karena tiap huruf atau abjad itu tidak ada artinya. Beda dengan kata yang suah pasti mengacu pada benda yang bisa dilihat bentuknya, sehingga bisa merangsang imajinasi anak," jelas Sigit, salah satu staf di Pondok Kubaca.
Metode Baru
Sulistyowati Bambang SE MM, pemilik Pondok Kubaca Yasmia mengatakan, dengan tempat belajar membaca bagi anak usia prasekolah ini diharapkan bisa menggantikan metode belajar membaca konvensional. "Karena metode belajar membaca yang dulu dianggap kurang efektif," katanya.
Menurutnya, metode baru ini akan membuat anak bisa cepat membaca dan menulis hanya dalam waktu tiga bulan. Mengapa cepat ? "Karena disini, anak tidak diajarkan belajar membaca dengan mengeja kata," tuturnya.
Dia menjelaskan, ada tiga level yang harus dilewati anak agar bisa cepat membaca dan menulis di pondok ini. Level pertama, membaca kalimat yang terdiri atas sepuluh kata, logika berbahasa dan pemahaman kalimat. Level kedua, anak akan diajarkan membaca dengan artikulasi, kata berimbuhan dan lawan kata dan menulis. Level ketiga, kata yang dipelajari akan ditambah dengan kata sambung, kata tanya dan tanda baca, serta mereka akan diajari menulis huruf kecil, besar dan tegak bersambung.
"Dengan metode ini anak akan mampu mengkoordinasikan atara mata dan mulut, menambah perbendaharaan kata, dan membuat mereka makin percaya diri," tambah Sulistyowati.
diposting dari: Suara Merdeka
Label:
Kartu Kata
METODE BARU BAGI KEAKSARAAN FUNGSIONAL
KUBACA METODE BARU BAGI KEAKSARAAN FUNGSIONAL
Surabaya, 10/7/2007 (Kominfo Newsroom) - Dewan Pendidikan Jatim memperkenalkan metode Kubaca bagi peserta keaksaraan fungsional, dan dengan menggunakan metode tersebut diharapkan peserta didik bisa lebih cepat memahami dan menghafalkan huruf dan kata.
diposting dari: www.jatim.go.id
Surabaya, 10/7/2007 (Kominfo Newsroom) - Dewan Pendidikan Jatim memperkenalkan metode Kubaca bagi peserta keaksaraan fungsional, dan dengan menggunakan metode tersebut diharapkan peserta didik bisa lebih cepat memahami dan menghafalkan huruf dan kata.
“Untuk belajar dengan metode ini, peserta didik dikenalkan dengan lima kata-kata yang sudah akrab digunakan untuk berinteraksi sehari-hari. Setelah dikenalkan, diharapkan bisa menghafalkan dan selanjutnya bisa menyusun dengan kalimat yang berbeda walaupun kata-katanya sama”, kata Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Daniel M Rosyid, saat Launching Metode Kubaca di Surabaya, Senin (9/7) sore.
Melalui metode ini, peserta akan lebih semangat belajar huruf dan kata karena merasa lebih mudah saat awal belajar, sehingga pada saat mereka berniat belajar diharapkan akan merasa lebih mudah dan tidak putus di tengah studi.
Selanjutnya mereka diharapkan juga bisa melakukan baca dan tulis secara mandiri karena mereka sudah ingat jenis-jenis huruf latin tanpa harus menghafalkan satu persatu.
Dengan metode ini, waktu belajar akan lebih cepat dibanding metode konvensional yang selama ini diterapkan di Jatim. Jika dengan konvensional biasanya waktu yang dibutuhkan untuk belajar sampai satu tahun, dengan Kubaca hanya dalam waktu empat bulan.
Daniel juga mengatakan, dengan adanya penemuan metode Kubaca, pemerintah diharapkan mampu menerapkan pada sekolah-sekolah di Jatim yang khusus peserta didiknya adalah keaksaraan fungsional. "Jika ini diterapkan, jumlah penduduk usia lanjut yang buta huruf diharapkan dapat berkurang," katanya.
Sementara penemu metode Kubaca, Diah Lestari, mengatakan, sebelum diterapkan pada usia lanjut, metode ini sudah diterapkan pada anak usia dini di beberapa taman kanak-kanak di Jatim di antaranya Malang, Surabaya, Jombang, Mojokerto, dan Pasuruan.
Setelah berhasil, kemudian disusunlah kata-kata yang akrab digunakan pada usia dewasa dan ternyata hasilnya lebih mudah dipahami dan muncul perasaan lebih mudah memahami huruf dan kata.
Sekarang, metode ini diterapkan di Kelurahan Keputran tepatnya di Jl Dinoyo Baru 42-44 Surabaya di rumah Ny. Kasiono. Jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode ini sebanyak 25 orang ibu-ibu rumah tangga dan abang becak yang mangkal di sepanjang Jl Dinoyo.diposting dari: www.jatim.go.id
Label:
Metode Baru
Langganan:
Postingan (Atom)

